Showing posts sorted by relevance for query perkembangan-sosial-emosional-anak-usia-dini. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query perkembangan-sosial-emosional-anak-usia-dini. Sort by date Show all posts

Monday, 4 February 2019

Jadi Pintar Kerangka Dasar Kurikulum 2013 Paud Ra Tk Kb


Kerangka Dasar Kurikulum 2013 PAUD RA Taman Kanak-kanak KB. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan pendidikan yang paling mendasar alasannya yaitu perkembangan anak di masa selanjutnya akan sangat ditentukan oleh banyak sekali stimulasi bermakna yang diberikan semenjak usia dini. Awal kehidupan anak merupakan masa yang paling sempurna dalam menunjukkan dorongan atau upaya pengembangan semoga anak sanggup berkembang secara optimal.

Masa usia dini yaitu masa emas perkembangan anak dimana semua aspek perkembangan sanggup dengan gampang distimulasi. Periode emas ini hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia. Oleh alasannya yaitu itu, pada masa usia dini perlu dilakukan upaya pengembangan menyeluruh yang melibatkan aspek pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.

Karakteristik Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini


Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:

  • mengoptimalkan perkembangan anak yang meliputi: aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni yang tercermin dalam keseimbangan kompetensi sikap, pengetahun, dan keterampilan;
  • menggunakan pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik dalam pinjaman rangsangan pendidikan;
  • menggunakan evaluasi autentik dalam memantau perkembangan anak; dan
  • memberdayakan tugas orang renta dalam proses pembelajaran.

Tujuan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini


Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini bertujuan untuk mendorong berkembangnya potensi anak semoga mempunyai kesiapan untuk menempuh pendidikan selanjutnya.

Kerangka Dasar Kurikulum 2013 PAUD RA TK


A. Landasan Filosofis
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan sejumlah landasan filosofis yang menunjukkan dasar bagi pengembangan seluruh potensi anak semoga menjadi insan Indonesia berkualitas sebagaimana yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan memakai landasan filosofis sebagai berikut.

1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun
kehidupan bangsa masa sekarang dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan menurut budaya bangsa Indonesia yang bermacam-macam dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sehingga pendidikan diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Sehubungan dengan itu, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dirancang untuk sanggup menunjukkan pengalaman mencar ilmu yang luas bagi anak semoga mereka bisa mempunyai landasan untuk menguasai kompetensi yang diharapkan bagi kehidupan di masa sekarang dan masa depan, serta membuatkan kemampuan sebagai pewaris budaya bangsa yang kreatif dan peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa.

2. Anak yaitu pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di banyak sekali bidang kehidupan di masa lampau yaitu sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk memberi wangsit dan rasa besar hati pada anak. Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini memposisikan keunggulan budaya untuk menimbulkan rasa besar hati yang tercermin, dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa.

3. Dalam proses pendidikan, anak usia dini membutuhkan keteladanan, motivasi, pengayoman/perlindungan, dan pengawasan secara berkesinambungan sebagaimana dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam filosofi: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

4. Usia dini yaitu masa dikala anak menghabiskan sebagian besar waktu untuk bermain. Karenanya pembelajaran pada PAUD dilaksanakan melalui bermain dan kegiatan-kegiatan yang mengandung prinsip bermain.

B. Landasan Sosiologis
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat.

Masyarakat Indonesia yaitu masyarakat yang sangat beragam. Satuan PAUD merupakan representasi dari masyarakat yang bermacam-macam baik dari aspek strata sosial-ekonomi, budaya, etnis, agama, kondisi fisik maupun mental. Untuk mengakomodasi keberagaman itu, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan secara inklusif untuk memberi dasar terbentuknya sikap saling menghargai dan tidak membeda-bedakan.

C. Landasan Psiko-Pedagogis
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan mengacu pada cara mendidik anak sebagai individu yang unik, mempunyai kecepatan perkembangan yang berbeda, dan belum mencapai masa operasional konkret, dan hasilnya dipakai pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan dan potensi setiap anak.

D. Landasan Teoritis
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan mengacu pada teori pendidikan berbasis standar dan kurikulum berbasis kompetensi. Pendidikan berbasis standar tetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal penyelenggaraan pendidikan. Standar tersebut terdiri dari standar tingkat pencapaian perkembangan anak, standar isi, standar proses, standar evaluasi pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

Proses pengembangan kurikulum secara eksklusif berlandaskan pada empat standar yakni standar tingkat pencapaian perkembangan anak, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi pendidikan. Sementara itu, empat standar lainnya dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung implementasi kurikulum.

Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk menunjukkan pengalaman mencar ilmu seluas-luasnya bagi anak untuk membuatkan kemampuan yang berupa sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini menerapkan pembelajaran dalam bentuk pinjaman pengalaman mencar ilmu eksklusif kepada anak yang dirancang sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan usia anak.

E. Landasan Yuridis
Landasan yuridis Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini adalah:

  1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
  2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 ihwal Sistem Pendidikan Nasional;
  3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 ihwal Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, beserta segala ketentuan yang dituangkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional;
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 ihwal Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 ihwal Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 ihwal Standar Nasional Pendidikan; dan
  5. Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 Tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif.


Struktur Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pengorganisasian muatan kurikulum, Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan usang belajar.

A. Muatan Kurikulum
Muatan kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini berisi program-program pengembangan yang terdiri dari:

  1. Program pengembangan nilai agama dan adab meliputi perwujudan suasana mencar ilmu untuk berkembangnya sikap baik yang bersumber dari nilai agama dan adab serta bersumber dari kehidupan bermasyarakat dalam konteks bermain.
  2. Program pengembangan fisik-motorik meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kematangan kinestetik dalam konteks bermain.
  3. Program pengembangan kognitif meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kematangan proses berpikir dalam konteks bermain.
  4. Program pengembangan bahasa meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kematangan bahasa dalam konteks bermain.
  5. Program pengembangan sosial-emosional meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kepekaan, sikap, dan keterampilan sosial serta kematangan emosi dalam konteks bermain.
  6. Program pengembangan seni meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya eksplorasi, ekspresi, dan apresiasi seni dalam konteks bermain.

B. Kompetensi Inti
Kompetensi Inti Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan citra pencapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada final layanan PAUD usia 6 (enam) tahun. Kompetensi Inti mencakup:

  1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual.
  2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial.
  3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
  4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.

C. Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar merupakan tingkat kemampuan dalam konteks muatan pembelajaran, tema pembelajaran, dan pengalaman mencar ilmu yang mengacu pada Kompetensi Inti. Rumusan Kompetensi Dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan kemampuan awal anak serta tujuan setiap aktivitas pengembangan. Kompetensi Dasar dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti yaitu:

  1. Kelompok 1: kelompok Kompetensi Dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1;
  2. Kelompok 2: kelompok Kompetensi Dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2;
  3. Kelompok 3: kelompok Kompetensi Dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan
  4. Kelompok 4: kelompok Kompetensi Dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.

Indikator Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini


  1. Indikator pencapaian perkembangan anak yaitu penanda perkembangan yang spesifik dan terukur untuk memantau/menilai perkembangan anak pada usia tertentu.
  2. Indikator pencapaian perkembangan anak merupakan kontinum/rentang perkembangan anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 tahun.
  3. Indikator pencapaian perkembangan anak berfungsi untuk memantau perkembangan anak dan bukan untuk dipakai secara eksklusif baik sebagai materi bimbing maupun kegiatan pembelajaran.
  4. Indikator pencapaian perkembangan anak dirumuskan menurut Kompetensi Dasar (KD).
  5. Kompetensi Dasar (KD) dirumuskan menurut Kompetensi Inti (KI).
  6. Kompetensi Inti (KI) merupakan citra pencapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada final layanan PAUD usia enam tahun yang dirumuskan secara terpadu dalam bentuk KI Sikap Spiritual, KI Sikap Sosial, KI Pengetahuan, dan KI Keterampilan.
  7. Indikator pencapaian perkembangan anak untuk KD pada KI Sikap Spiritual dan KD pada KI Sikap Sosial tidak dirumuskan secara tersendiri. Pembelajaran untuk mencapai KD-KD ini dilakukan secara tidak langsung, tetapi melalui pembelajaran untuk KD-KD pada KI Pengetahuan dan KI Keterampilan. Dengan kata lain, sikap positif anak akan terbentuk dikala ia mempunyai pengetahuan dan mewujudkan pengetahuan itu dalam bentuk hasil karya dan/atau unjuk kerja.
  8. Indikator pencapaian perkembangan anak untuk KD pada pengetahuan dan KD pada keterampilan merupakan satu kesatuan alasannya yaitu pengetahuan dan keterampilan merupakan dua hal yang saling berinteraksi.

Kerangka Dasar Kurikulum 2013 PAUD RA Taman Kanak-kanak KB

Wednesday, 2 January 2019

Jadi Berilmu Abjad Dan Faktor Perkembangan Sosial Emosional Pada Anak Usia Dini


Perkembangan sosial-emosional berdasarkan para ahli, bertujuan untuk mengetahui diri sendiri dan bekerjasama dengan orang lain yaitu sahabat sebaya dan orang dewasa, bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan berperilaku sesuai dengan sikap prososial. Perkembangan sosial, sebagaimana dikatakan Muhibbin (1999:35), merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.

Adapun Hurlock menyampaikan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Untuk menjadi individu yang bisa bermasyarakat dibutuhkan tiga proses sosialisasi. Ketiga proses tersebut nampak terpisah, tetapi bahu-membahu saling berhubungan:

  1. belajar untuk bertingkah laris dengan cara yang sanggup diterima masyarakat
  2. belajar memainkan tugas sosial yang ada di masyarakat
  3. mengembangkan sikap atau tingkah laris sosial terhadap individu lain dan kegiatan sosial yang ada di masyarakat (Hurlock:250).

Fase-fase perkembangan sosial emosional anak usia dini


1. Fase Pembentukan Dasar Kepercayaan vs Tidak Percaya (0-12-18 Bulan)


Dalam fase ini anak mengalami krisis pertama dalam kehidupannya.Krisis ini menyangkut krisis kepercayaan terhadap lingkungan. Perawatan yang diberikan pada bayi merupakan prasyarat untuk timbulnya percaya dalam diri bayi tewrhadap lingkungannya.

Untuk membangun dasar kepercayaan tersebut maka pemenuhan kebutuhan bayi perlu dilakukan secara teratur. Misalnya : kebutuhab terhadap makanan, kebersihan (mandi, ganti, dan sebagainya. Di samping itu dibutuhkan juga cara-cara penanganan dalam merawat bayi. Perawatan ini haruslah menjadikan rasa aman dan rasa terlindungi pada bayi. Hal tersebut merupakan faktor penentu untuk timbulnya rasa percaya dalam diri bayi. Apabila bayi tidak memperoleh perawatan yang demikian maka yang tumbuh dalam diri bayi yakni rasa tidak percaya atau curiga.

2. Fase Autonomi vs Malu dan ragu-ragu (18 bulan -3 tahun)


Bermodalkan rasa percaya dan sejalan dengan perkembangan baik fisik, kognitif dan bahasa, anak mulai mengeksplorasi lingkungannya. Ia bergerak kesana-kemari. Pada masa ini anak mencicipi kebebasannya. Seiring dengan hal itu berkembang pula krisis tahap ke dua dalam diri anak. Rasa aib ini merupakan awal dari kepekaan anak terhadap sesuatu yang salah dan yang benar. Oleh alasannya yakni itu tugas orang bau tanah sangat penting dalam mengarahkan perkembangan psikososial anak berkembang dengan baik.

Kontrol yang terlalu ketat menimbulkan autonomi anak tidak berkembang. Sebaliknya kontrol yang terlalu longgar menimbulkan autonomi anak kurang peka terhadap mana yang salah dan mana yang benar.

3. Fase inisiatif vs Merasa Bersalah (3-6 tahun)


Pada tahap ini krisis yang terjadi dalam diri anak yakni antara inisiatif dan melaksanakan inisiatif tersebut, dan rasa bersalah untuk melaksanakan apa yang ingin dilakukan oleh anak. Oleh alasannya yakni itu anak perlu berguru mengendalikan perasaan ini. Salah satu cara yang sanggup dilakukan yakni dengan jalan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Di samping itu anak masih perlu mencicipi kebebasannya. Apabila perkembangan rasa besalah melebihi perkembangan inisiatif anak maka anak akan menjadi anak yang tidak sanggup mengespresikan keperibadiannya lantaran takut diangap salah. Anakakan diliputi rasa ragu-ragu.

Bertitik tolak dari pendapat para hebat tersebut di atas maka sanggup diketahui bahwa perkembangan psikososial merupakan suatu bentuk perkembangan yang bersifat kumulatif. Hal ini berarti bahwa perkembangan psikososial pada tahap awal akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya. Oleh alasannya yakni itu apabila terjadi kendala dalam perkembangan dalam perkebangan psikososial pada tahap awal maka keadaan ini akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya.

Perkembangan sosialisasi pada anak ditandai dengan kemampuan anak untuk mengikuti keadaan dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran, dan perilakunya. Perkembangan sosialisasi anak yakni proses dimana anak mengembangkan keterampilan interpersonalnya, berguru menjalin persahabatan, meningkatkan pemahamannya perihal orang di luar dirinya, dan juga berguru kebijaksanaan sehat susila dan perilaku.

Perkembangan sosial emosional melibatkan pemahaman yang mendalam perihal diri sendiri dan orang lain. Feeney (et.al) menyatakan bahwa perkembangan sosial emosional mencakup; kompetensi sosial (kemampuan dalam menjalin kekerabatan dalam kelompok sosial), kemampuan sosial (perilaku yang dipakai dalam situasi sosial), kognisi sosial (pemahaman terhadap pemahaman, tujuan, dan sikap diri sendiri dan orang lain), sikap sosial (kesediaan untuk berbagi, membantu, bekerjasama, merasa nyaman dan aman, dan mendukung orang lain), serta penguasaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas (perkembangan dalam menentukan standar baik dan buruk, kemampuan untuk mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan orang lain).

Sosialisasi yakni suatu proses mental dan tingkah laris yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keinginan yang berasal dari dalam diri. Sosialisasi merupakan proses dimana anak berguru untuk berperilaku sesuai dengan keinginan budaya dimana anak dibesarkan. Sebagaimana Manning menyatakan "socialization is the process by which children learn to be have in acceptable manner, as defined by culture of which the family is apart". Sementara itu Drever mengemukakan pengertian sosialisasi sebagai suatu proses dimana individu mengikuti keadaan dengan lingkungan sosial dan menjadi dikenali, dan bekerjasama dengan anggota kelompok tersebut.

Ada beberapa faktor yang mensugesti kemampuan anak dalam bersosialisasi, yaitu: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekolah, (3) lingkungan kelompok masyarakat, (4) faktor dari dalam diri anak.

Proses sosialisasi membutuhkan 3 (tiga) keterampilan khusus, yiatu: (1) proses imitasi, (2) proses identifikasi, dan (3) proses internalisasi. Proses imitasi yakni proses dimana anak berguru menggandakan sikap yang sanggup ditterima secara sosial. Anak melhat secara eksklusif sikap orang lain yang dijadikan contoh/model. Proses identifikasi yakni terjadinya efek sosial pada anak, dimana anak ingin menjadi menyerupai orang lain yang dicontoh. Proses internalisasi yakni proses penanaman serta perembesan nilai-nilai. Dalam proses ini dibutuhkan pemahaman anak untuk membedakan nilai-nilai sosial yang baik dan buruk. Proses sosialisai juga diawali dengan adanya proses pengamatan terhadap sikap orang lain.

Bandura mengemukakan tahapan atau fase yang dilalui individu dalam mengamati sikap tertentu, yaitu; (1) memperhatikan (attention), (2) menyimpan (retention), (3) mereproduksi (reproduction), dan (4) motivasi (motivation).

Menurut Erikson, masa kanak-kanak merupakan citra awal individu sebagai seorang manusia, dimana prola sikap dan sikap yang diperoleh anak, akan menjadi peletak dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. Pada anak usia 4-5 tahun sangat bahagia menggandakan pembicaraan maupun tindakan orang lain. Menurutnya, tahapan perkembangan psikososial pada anak pra sekolah yakni tahapan inisiatif atau prakarsa versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak terlihat aktif dan mulai bermain serta menjalin komunikasi dengan belum dewasa lain. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan memperlihatkan perhatian terhadap perbedaan jenis kelamin.

Ciri-ciri perkembangan sosial berdasarkan Steinberg (1995), Hughes (1995) dan Piaget (1996) adalah: (1) menentukan sahabat yang sejenis, (2) cenderung lebih percaya pada sahabat sebaya, (3) agresivitas lebih meningkat, (4) bahagia bergabung dalam kelompok, (5) memahami keberadaan bersama kelompok, (6) berpartisipasi dengan pekerjaan orang dewasa, (7) berguru membina persahabatan dengan orang lain, dan (8) memperlihatkan rasa setia kawan.

Dalam kaitannya dengan perkembangan emosi pada anak usia dini, terdapat 3 (tiga) pola dasar emosi yang timbul pada anak, yaitu takut, marah, dan cinta (fear, anger, and love). Emosi sanggup berubah bukan hanya disebabkan lantaran adanya perubahan perasaan, tetapi juga lantaran kondisi lingkungan yang dialami anak. Rasa takut sanggup timbul lantaran adanya peristiwa yang mendadak atau tidak terduga, dimana anak perlu menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Rasa murka biasa muncul pada belum dewasa untuk menarik perhatian orang lain. Rasa bahagia merupakan bentuk emosi yang memperlihatkan kegembiraan atau keriangan yang sanggup disertai dengan ekspresi tawa, senyum sebagai tanda relaksasi tubuh.

Karakteristik perkembangan emosi pada anak usia dini


  1. Emosi anak berlangsung singkat
  2. Emosi anak bersifat intense
  3. Emosi anak bersifat temporer
  4. Emosi anak muncul cukup sering
  5. Respon emosi anak bermacam-macam
  6. Emosi anak sanggup dideteksi dengan melihat tanda-tanda perilakunya
  7. Kekuatan emosi anak sanggup berubah
  8. Ekspresi emosi anak sanggup berubah

Menurut Piaget, anak berada pada tahap perkembangan kognitif pra-operasional (2-7 tahun) ditendai dengan egosentrisme yang kuat, gagasan imajinatif, bertindak berdasarkan pemikiran intuitif atau tidak berdasarkan pemikiran yang rasional. Menurut Kroh, bahwa emosi anak usia 4-5 tahun berada pada masa kegoncangan atau biasa disebut sebagai trotz period. Pada masa ini muncul tanda-tanda kenakalan yang umum terjadi pada anak, menyerupai menentang pada orang tua, memakai kata-kata kasar, dengan sengaja melanggar hal yang tidak boleh dan sebagainya.

Karakteristik perkembangan emosi anak usia 5-6 tahun


  1. Memiliki keinginan untuk menyenangkan hati teman
  2. Sudah lebih bisa mengikuti aturan
  3. Sudah lebih berdikari di satu sisi, namun juga memperlihatkan ketergantungan di sisi lain
  4. Sudah lebih bisa membaca situasi
  5. Mulai bisa menahan tangis dan kekecewaan
  6. Mulai sabar menunggu giliran
  7. Menunjukkan kasih sayang terhadap saudara maupun teman
  8. Menaruh minat pada kegiatan orang dewasa

Faktor-faktor yang mensugesti perkembangan emosi anak


  1. Kematangan
  2. Belajar: penyesuaian dan contoh
  3. Inteligensi
  4. Jenis kelamin
  5. Status ekonomi
  6. Kondisi fisik
  7. Posisi anak dalam keluarga

Untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosi pada anak, maka pendidik mempunyai tugas yang sangat penting. Di antara tugas pendidik tersebut adalah:

a. Memberikan aneka macam stimulasi pada anak


Pendidik perlu memperlihatkan stimulasi edukatif pada anak supaya kemampuan sosial emosi anak berkembang sesuai tahapan usianya. Kegiatan berguru melalui permainan sanggup dioptimalkan dengan cara menstimulasi anak misalnya; mengajak anak terlibat dalam permainan kelompok kecil, melatih anak bermain bergiliran, mengajak anak menceritakan pengalamannya di depan kelas, melatih kesadaran anak untuk menyebarkan dalam kegiatan kemanusiaan bila terjadi bencana, dan sebagainya.

b. Menciptakan lingkungan yang kondusif


Pendidik perlu mengelola kelas yang memungkinkan anak mengembangkan kemampuan sosial emosinya terutama kesadaran anak untuk bertanggungjawab terhadap benda dan tidakan yang dilakukannya. Lingkungan ini berupa fisik dan psikis. Lingkungan fisik menekankan pada ruang kelas sebagai daerah anak berlatih kecakapan sosial emosinya. Sedangkan lingkungan psikis lebih ditekankan pada suasana lingkungan penuh cinta kasih sehingga merasa nyaman dan aman di kelas.

c. Memberikan contoh


Pendidik yakni pola konkrit bagi anak. Segala tindakan dan tutur kata pendidik anak diikuti oleh anak. Oleh lantaran itu pendidik seharusnya sanggup menjaga sikap sesuai dengan norma sosial dan nilai agama, menyerupai menghargai pendapat anak, bersedia menyimak keluh kesah anak, membangun sikap positif anak, berempati terhadap problem yang dihadapi anak, dan sebagainya.

d. Memberikan kebanggaan atas perjuangan yang dilakukan anak


Pendidik sebaiknya tidak sungkan memperlihatkan kebanggaan terhadap kecakapan sosial yang sudah dilakukan oleh anak secara proporsional. Pujian sanggup diberikan secara mulut maupun non lisan. Misalnya dengan kata-kata yang menyenangkan, atau dengan senyuman, pelukan, dan sumbangan tanda-tanda terentu yang bermakna untuk anak.

Dalam proses pembelajaran, aneka macam acara sanggup dikembangkan oleh pendidik supaya sanggup meningkatkan sosialisasi dan emosi anak. Di antara acara yang sanggup dikembangkan adalah:

  1. Memberikan pilihan pada anak
  2. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya
  3. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi lingkungan
  4. Mendorong anak untuk bekerja secara mandiri
  5. Menghargai ide/gagasan anak
  6. Membimbing anak untuk melaksanakan pemecahan masalah

Jadi Terpelajar Karakteristik Dan Prinsip Perkembangan Anak Usia Dini


Perkembangan dan pertumbuhan merupakan satu proses dalam kehidupan insan yang berlangsung secara terus-menerus semenjak masa konsepsi hingga selesai hayat. Perkembangan juga diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik itu menyangkut aspek fisik maupun psikis.

Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling menghipnotis antara bagian-bagian organisme. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis). Berkesinambungan, berarti perubahan pada serpihan atau fungsi organisme itu berlangsung secara sedikit demi sedikit dan berurutan.

Perkembangan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
  2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi.
  3. Perkembangan mengikuti contoh atau arah tertentu.
  4. Perkembangan terjadi pada daerah yang berlainan.
  5. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
  6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan.

Fase perkembangan sanggup diartikan sebagai penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laris tertentu. Para hebat mengemukakan pendapat yang berbeda wacana pembabakan atau periodisasi perkembangan ini. Pendapat-pendapat tersebut secara garis besar sanggup digolongkan menjadi tiga, yaitu berdasarkan analisis biologis, didaktis, dan psikologis.

Karakteristik Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak


Perkembangan anak usia Taman Kanak-kanak yang terentang antara usia empat hingga dengan enam tahun merupakan serpihan dari perkembangan insan secara keseluruhan. Perkembangan pada usia ini meliputi perkembangan fisik dan motorik, kognitif, sosial emosional, serta bahasa.

Ketika anak mencapai tahapan usia Taman Kanak-kanak (3 hingga 6 tahun), terdapat ciri yang sangat berbeda dengan usia bayi. Perbedaannya terletak pada penampilan, proporsi tubuh, berat dan panjang badan, serta keterampilan yang mereka miliki.

Dilihat dari tahapan berdasarkan Piaget, anak usia Taman Kanak-kanak berada pada tahapan praoperasional, yaitu tahapan di mana anak belum menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan memakai sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan memakai simbol-simbol. Melalui kemampuan tersebut anak bisa berimajinasi atau berfantasi wacana banyak sekali hal.

Perkembangan emosi bekerjasama dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi, anak cenderung mengekspresikan emosi dengan bebas dan terbuka. Sikap murka sering mereka perlihatkan dan sering berebut perhatian guru.

Perkembangan sosial ialah perkembangan sikap anak dalam beradaptasi dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Perkembangan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekedar hasil dari kematangan. Perkembangan sosial diperoleh anak melalui kematangan dan kesempatan mencar ilmu dari banyak sekali respons terhadap dirinya. Bagi anak prasekolah, kegiatan bermain mengakibatkan fungsi sosial anak semakin berkembang.

Anak prasekolah biasanya telah bisa membuatkan keterampilan bicara melalui percakapan yang sanggup memikat orang lain. Mereka sanggup memakai bahasa dengan banyak sekali cara menyerupai bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga sanggup menambah perbendaharaan kata.

Prinsip-prinsip Perkembangan Anak


Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak menuntut pendidik yang mempunyai kemampuan profesional, sosial dan pribadi yang baik. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru Taman Kanak-kanak ialah memahami perkembangan anak. Pemahaman wacana karakteristik perkembangan anak menunjukkan bantuan terhadap pendidik untuk merancang kegiatan, menata lingkungan belajar, mengimplementasikan pembelajaran serta mengevaluasi perkembangan dan mencar ilmu anak.

Prinsip-prinsip perkembangan anak meliputi: (1) anak berkembang secara holistik, (2) perkembangan terjadi dalam urutan yang teratur, (3) perkembangan anak berlangsung pada tingkat yang bermacam-macam di dalam dan di antara anak, (4) perkembangan gres didasarkan pada perkembangan sebelumnya, (5) perkembangan mempunyai imbas yang bersifat kumulatif.

Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut menunjukkan implikasi bagi pendidik dalam menentukan tujuan, menentukan materi ajar, menentukan strategi, menentukan dan memakai media, serta mengevaluasi perkembangan dan mendukung mencar ilmu anak secara optimal.

Dasar Pemikiran dan Pengertian Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan. Ada beberapa hal yang mendasari munculnya praktik pembelajaran yang berorientasi perkembangan, antara lain meningkatnya praktik pembelajaran yang bersifat formal di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini, kuatnya tuntutan dan tekanan orang renta dan masyarakat terhadap pengajaran yang lebih bersifat akademik, kesalahpahaman masyarakat wacana konsep pendidikan anak usia dini.
Pembelajaran yang berorientasi perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu (1) berorientasi pada usia, (2) berorientasi pada anak secara individual, dan (3) berorientasi pada konteks sosial budaya anak.

Praktek pembelajaran yang berorientasi perkembangan menekankan pada hal-hal sebagai berikut:

  1. anak secara holistik
  2. program pendidikan yang bersifat individual,
  3. pentingnya kegiatan yang diprakarsai anak,
  4. leksibel, lingkungan kelas menstimulasi anak,
  5. pentingnya bermain sebagai wahana belajar,
  6. kurikulum terpadu,
  7. belajar melalui bekerja,
  8.  memberikan pilihan kepada anak wacana apa dan bagaimana caranya belajar,
  9. penilaian bersifat kontinu, dan
  10. bermitra dengan orang renta untuk mendukung perkembangan dan mencar ilmu anak.

Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan Untuk Anak Usia Taman Kanak-kanak Prinisp-prinsip pembelajaran yang berorientasi perkembangan sanggup diidentifikasi dari beberapa dimensi, sebagai berikut.

  1. Menciptakan iklim yang positif dan aman untuk belajar.
  2. Membantu keeratan kelompok dan memenuhi kebutuhan individu.
  3. Lingkungan dan aktivitas hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil inisiatif, melaksanakan eksplorasi terhadap objek dan lingkungannya.
  4. Pengalaman mencar ilmu hendaknya dirancang secara nyata dan memberi kesempatan kepada anak untuk menentukan kegiatannya sendiri.
  5. Mendorong bawah umur untuk membuatkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa secara menyeluruh yang meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dini.
  6. Strategi pembelajaran dirancang biar anak sanggup berinteraksi dengan anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil.
  7. Motivasi dan bimbingan diberikan biar anak mengenal lingkungannya, membuatkan keterampilan sosial, pengendalian dan disiplin diri.
  8. Kurikulum diorganisasikan secara terpadu untuk membuatkan seluruh aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik motorik, sosial emosi, kognitif, bahasa, dan seni.
  9. Penilaian terhadap anak dilakukan secara kontinu, melalui observasi.
  10. Mencatat dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan anak dan cara melaksanakan kegiatan tersebut.

Jadi Berilmu Taktik Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini


Pembelajaran yaitu seuatu acara yang meliputi acara mencar ilmu dan mengajar. Kegiatan pembelajaran dilakukian menurut planning yang terorganisir secara sistematis yang meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran dan acara pembelajaran yang meliputi metode dan media pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan umpan balik pembelajaran. Suatu trencana pembelajaran dan pelaksanaannya perlu memperhatikan hal-halyang terkait dengan mencar ilmu bagaimana belajar, mencar ilmu bagaimana berpikir, mencar ilmu bagaimana melakukan, dan mencar ilmu bagaimana bekerja sama dan hidup bersama.

Sejalan dengan perkembangan anak usia dini, maka pembelajaran perlu menekankan pada empat aspek tersebut di atas. Hal tersebut menjadi faktor yang kritis dalam perkembangan anak yang bersangkutan. Oleh alasannya itu, pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan pada forum pendidikan anak usia dini yang dilakukan dalam bentuk banyak sekali acara bermain perlu menekankan pada empat aspek tersebut di atas ditambah dengan aspek-aspek lain, mirip moral, sikap baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, maupun sebagai makhluk Tuhan sesuasi dengan nilai-nilai keagamaan.

Sifat pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini berlangsung secara stimulan dan holistik, sehingga pendekatan dan desain, serta pelaksanaan pembelajaran anak tersebut terintegrasi secara terpadu.

Di sisi lain, ada hal yang penting yang juga harus diperhatikan oleh pendidik anak usia dini dalam melaksanakan acara mencar ilmu mengajar. Hal penting tersebut yaitu berkaitan dengan metode serta seni administrasi dalam melaksanakan pengajaran bagi anak usia dini. Sukses tidaknya suatu pengajaran bagi anak usia dini di antaranya yaitu tergantung bagaimana seorang pendidik (pengajar) memakai strateginya.

Strategi Mengajar Anak Usia Dini


Ada beberapa seni administrasi dalam pelaksanaan acara pengajaran anak usia dini. Di antara seni administrasi tersebut adalah: (1) Perhatian Intens (2) Beri Dorongan (3) Berikan Umpan Balik Khusus (4) Berikian Model Atau Contoh,(5) Mendemontrasikan, (6) Menciptakan dan menambahkan tantangan, (7) Memberikan cara atau pemberian lainnya, serta (8) Memberikan isu secara langsung. Sedangkan dalam makalah ini akan dibatasi pada empat seni administrasi yang pertama yaitu :

1. Perhatian Intens


Dalam melaksanakan pengajaran seorang guru sebagai pendidik harus bisa memperlihatkan perhatian yang intens terhadap anak didik. Menaruh perhatian khusus terhadap anak semenjak usia dini sanggup membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berbahasa, serta kemampuan awal membaca dan menulis dengan cara bermain dan bersenang-senang anak juga mulai sanggup mengembangkan kemampuan dasar berhitung, hal-hal konseptual dan kognitif serta konsep-konsep dasar ilmu alam dan pengetahuan teknis lainnya. Beberapa hal penting sanggup mereka peroleh pada ketika bermain mirip kemampuan memahami budaya dan seni, kemampuan memahami mahkluk hidup dan lingkungan sekitar, bangkitnya kesadaran terhadap kesehatan lingkungan, olahraga dan rekreasi.

Selain itu, biar setiap anak bisa memikul tanggung jawab kemajuanbangsa di masa yang akan datang, maka bawah umur (tidak terkecuali) harus mendapat perhatian dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial. Perhatian dan pemberian kesempatan tumbuh kembang pada anak usia dini harus merupakan tekad dan agresi yang ditunjukkan oleh keuarga, masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama. Upaya ini sekaligus merupakan bentuk proteksi serta mewujudkan kesejahteraan anak dengan memperlihatkan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya tanpa adanya diskriminasi.

Sepanjang rentang kehidupan manusia, masa anak usia dini "periode keemasan atau golden period". Pada masa tersebut terjadi pembentukan dasar-dasar sikap dan sikap serta perkembangan banyak sekali dimensi kecerdasan (inteletual, emosional, sosial, spiritual, kinestetik dan seni) yang intensif. Periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali di sepanjang rentang kehidupan manusia. Jika potensi-potensi dasar pada periode tersebut kurang memperoleh banyak sekali rangsangan maka tidak tidak mungkin kalau potensi anak akan karam atau tidak berfunsi sama sekali (lost of capacity) ketika ia tumbuh dan berubah menjadi pribadi-pribadi dewasa.

2. Beri Dorongan


Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yangmenyenangkan, yaitu pola asuh yang otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus pekaterhadap isyarat-isyarat anak, memperhatikan minat, impian atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, membuat rasa kondusif dan nyaman, memberi pola tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memperlihatkan penghargaan atau kebanggaan atas keberhasilan atau sikap yang baik, memperlihatkan koreksi bukan ancaman atau eksekusi bila anak tidak sanggup melaksanakan sesuatu atau ketika melaksanakan kesalahan.Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak.

Dengarkan omongan anak dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau melecehkan pendapat anak. Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan perihal banyak sekali hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan kebanggaan untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain. Bila anda semenjak dini mendorong Si Kecil untuk membuatkan dan memikirkan orang lain berarti telah membentuk sifat yang baik.

Contoh:
Beri waktu. Buat seorang anak mencar ilmu berpakaian, melepas pakaian, mengancingkan kancing, mengikat tali sepatu, menutup retsleting atau mengancingkan kancing jepret membutuhkan waktu. Mengharapkan si dua tahun menarik celana memang mudah, tapi berharap ia bisa ahli mengikat tali sepatu sebelum ia masuk taman bermain tidaklah realistis. Anda harus terus memberi dorongan atau memotivasinya dengan sabar. Anda harus memberinya cukup membanyak waktu biar ia bisa menuntaskan satu tugas

3. Berikan Umpan Balik Khusus


Seorang pendidik anak usia dini tidak berhenti pada pelaksanaan acara pembelajaran, atau memberikan bahan pembelajaran kepada anak didi. Tetapi pembelajaran tersebut harus ditindak lanjuti dengan melaksanakan umpan balik terhadap anak sesudah selesai mengadakan acara pembelajaran.

Contoh:
Menulis yaitu acara yang membutuhkan keterampilan motorik halus bab tangan. Keterampilan motorik halus bab tangan akan melibatkan banyak otot kecil: jari jemari, telapak tangan dan pergelangan tangan.

Ketika usia si kecil menginjak tahun kedua, sirkuit otak yang mengendalikan dan mengkoordinasikan gerakan tangannya masih berkembang pesat mirip di tahun pertama usianya. Di samping itu, bab otak lain yang berjulukan serebelum juga mulai berkembang. Serebelum bertugas mengatur waktu dan koordinasi untuk hampir semua kiprah motorik.

Latihan penting sekali untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak batita. Latihan menyerupai 'umpan balik' bagi otak mereka. Makin sering si kecil berlatih, makin pesatlah perkembangan sirkuit otaknya, dan makin baguslah kemampuan si kecil mengontrol dan mengkoordinasikan motorik halusnya.

4. Berikian Model Atau Contoh


Mengajarkan nilai kehidupan , kemanusiaan ,budaya dan pengembangan moral pada anak usia dini membutuhkan keteladanan dari orangtua, guru dan masyarakat . dan penanaman ini tidak hanya berlangsung dirumah saja tetapi juga berlangsung disekolah dan masyarakat . sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi penerima didik biar menjadi insan yang beriman, bertaqwa, kepada tuhan YME berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Contoh dalam pelajaran sosial contohnya dalam nilai kehidupan dan kemanusiaan yang ingin ditanamkan bagaimana hidup rukun di dalam keluarga, masyarakat berkasih sayang antar anggota keluarga, memelihara kebersihan lingkungan. mengajarkan nilai kebudayaan misal di kawasan Jakarta siswa harus tahu asal mula ondel-ondel terbuat dari apa, gunanya buat apa dan bagaimana cara memeliharanya.

Sedangkan mengajarkan pengembangan moral bagaimana bersikap kepada yang lebih bau tanah dan muda, dan yang paling penting seni administrasi mengajarkan nilai kehidupan, kemanusiaan, budaya dan moral pada anak usia dini kita harus memperlihatkan teladan atau pola terlebih dahulu kalau ingin anak kita sopan maka harus terlebih dahulu orangtuanya sopan lantaran anak usia dini itu melihat pola dari keluarga, masyarakat/lingkungan dan memang sedang berada pada proses imitasi atau meniru. Dan inipun harus berlangsung secara kontinu dan konsisten dari pendidik dan praktisi sosial.

Orangtua yaitu guru terbaik bagi anak termasuk ketika mengajarkan cara mengekspresikan emosi. Berikan pola pada bawah umur sikap yang sesuai ketika sedang murka atau sedih. Berikan pula beberapa pilihan lain bagaimana cara mengekspresikan kemarahan, kegembiraan atau kesedihan.
Kembangkan sikap bertanggung jawab pada anak. Misal, jikalau anak menumpahkan minuman minuman ke lantai, maka ia harus membersihkan sendiri. Sebelumnya berikan pola dan klarifikasi mengapa ia harus melaksanakan itu.

Dari uraian di atas kiranya sanggup ditarik kesimpulan bahwa dalam melaksanakan acara pembelajaran ada faktor yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh pendidik anak usia dini. Keberhasilan pembelajaran khususnya dan pendidikan pada umumnya harus memperhatikan strateginya.

Referensi
  • Depdikas RI, Buletin PADU (Jurnal Ilmiah Anak Usia Dini Edisi 03 Desember 2002), Jakarta, 2004
  • Gunarso, D. Singgih, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
  • Hapidin, Model-Model Pendidikian untuk Anak Usia Dini, Jakarta: Ghiyats Alfiani Press, 2006
  • Jamaris, Martini, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak, Jakarta: Grasindo, 2006
  • Santoso, Sugeng, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Citra Pendidikan, 2004

Monday, 30 September 2019

Jadi Bakir Visi Misi Dan Pengembangan Kurikulum Pendidikan Jenjang Raudlatul Athfal (Ra)


Visi Misi dan Pengembangan Kurikulum RA. Masa usia dini merupakan usia emas pertumbuhan dan perkembangan (golden age) alasannya yaitu perkembangan banyak sekali aspek psiko-fisik yang terjadi pada masa ini akan menjadi peletak dasar sangat fuindamental. Artinya, perkembangan aspek psiko-fisik pada masa usia dini akan menjadi dasar peletak bagi perkembangan selanjutnya. Pada masa ini perkembangan otak anak mengalami peningkatan yang sangat pesat, oleh alasannya yaitu itu pendidikan anak usia dini merupakan dasar bagi perkembangan masa berikutnya, serta merupakan tahap pembinaan awal menuju terbinanya kualitas sumber daya insan Indonesia yang mempunyai daya saing tinggi di kurun globalisasi ini.

Pertumbuhan dan perkembangan anak akan tercapai secara optimal, apabila diciptakan situasi dan kondisi yang aman sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga layanan pendidikan yang diberikan harus memperhatikan keberagaman budaya, agama, kondisi alam dan pola kehidupan sehari-hari anak. Selain itu, sangat perlu diperhatikan kodrat anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius. Oleh lantaran itu pengembangan anak usia dini berorientasi pada pendekatan berpusat pada anak (student centered).

Pendidikan di Raudlatul Athfal bertujuan untuk menyebarkan sikap, pengetahuan, ketrampilan, daya cipta dan hati nurani anak didik dalam merespon dan mengikuti keadaan dengan lingkungannya menurut pemikiran dan nilai-nilai Islam. Untuk itu pelayanan pendidikan di Raudlatul Athfal harus sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah dengan berlandaskan pemikiran nilai-nilai Islam.

Kurikulum yaitu seperangkat planning dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan materi pelajaran serta cara yang dipakai sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidik dalam melaksanakan tugasnya.

Hal ini lantaran kurikulum secara umum didefinisikan Raudlatul Athfal mengacu pada pemikiran dan nilai-nilai Islam serta filosofi pendidikan anak sebagai landasan berpikir dalam penetapan tujuan, pemilihan materi untuk anak, kegiatan dan suasana berlajar di dalam dan di luar kelas, seni administrasi pembelajaran, pengelolaan kelas, media, sarana da prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara pengelolaan kelas, media, sarana prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara para guru, orang renta dan masyarakat sekitar sekolah.

Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keagamaan multipotensi, minat, multi kecerdasan (kecerdasan majemuk), emosional, spiritual dan kinestetik atau fisik-motorik anak didik secara optimal sesuai dengan keunikan dan tahap perkembangan setiap anak. Pengembangan kurikulum merupakan salah satu bab penting dalam proses pendidikan. Pengambanagn kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan yaitu untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sejalan dengan Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 14 bahwa pendidikan anak usia dini yaitu suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 tahun yang dilakukan mulai rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani biar anak mempunyai kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Berdasarkan undang-undang tersebut, maka pendidikan anak usia dini merupakan masa penting, lantaran awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam menunjukkan dorongan atau upaya pengembangan biar anak sanggup berkembang secara optimal. Apa yang dialami anak pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya akan berdampak pada kehidupannya di masa yang akan datang.

Oleh lantaran itu pada masa-masa usia dini perlu dilakukan upaya pendidikan yang meliputi upaya stimulasi, bimbingan, pengasuhan, pendampingan dan donasi kegiatan pembelajaran untuk menyebarkan banyak sekali potensi yang dilakukan anak melalui pengembangan kurikulum.

Kurikulum Raudlatul Athfal ini merupakan pembagian terstruktur mengenai dari idelalisme, cita-cita, tuntutan stakeholders, atau kebutuhan-kebutuhan tertentu. Melalui kurikulum ini akan diketahui arah pendidikan, alternatif pendidikan, fungsi pendidikan serta hasil pendiidkan yang hendak dicapai oleh Raudlatul Athfal. Kurikulum ini harus dijadikan pedoman bagi pengelola dan guru RA untuk selanjutnya disempurnakan secara terus-menerus melalui tahapan pengkajian, sosialisasi, advokasi, perintisan oleh tim pengembang kurikulum yang terdiri dari unsur kepala Raudlatul Athfal, guru/ praktisi, komite Raudlatul Athfal, penyelenggara pendidikan, Mapenda Departemen Agama kota/kabupaten dan nara sumber.

Dengan demikian, kurikulum ini bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan budaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.

Menghadapi kondisi tersebut Raudlatul Athfal perlu mempersiapkan diri secara mantap dengan menciptakan Rencana Kerja Raudhatul Athfal (RKRA) untuk memenuhi tuntutan perkembangan kurikulum Raudlotul Athfal yang sesuai dengan kondisi, potensi dan karakteristik Raudlatul Athfal dengan model KTSP yang mengacu pada standar pencapaian perkembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tahun 2004.

Kurikulum Raudlatul Athfal dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi, potensi dan karakteristik masyarakat religius dengan lebih banyak didominasi agraris (petani), wiraswasta serta kondisi masyarakat desa Kudar dan aspirasinya terhadap dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) cukup bagus. Pola pendidikan yang dikembangkan di Raudlatul Athfal. Keberhasilan pendidikan di Raudlatul Athfal kepercayaan masyarakat terhadap Raudlatul Athfal.

Raudlatul Athfal telah melaksanakan “kurikulum 2004” namun tahun 2006 diharapkan melaksanakan KTSP. Oleh lantaran itu pada tahun 2015 Tim Pengembang Kurikulum IGRA bersama kepala RA, Guru, yayasan/komite Kementrian Agama Kabupaten Pamekasan berkejasama dengan tim jago dari LKP2-I telah menyusun dan menyebarkan kurikulumnya sendiri dengan mengacu pada UU No.23 tahun 2002 perihal proteksi anak, Undang-undang No.20 tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional, PP No.19 tahun 2005 perihal Standar Nasional Pendidikan, Pemendiknas no 58 tahun 2009 perihal Standar Pendidikan Anaka Usia Dini serta berpedoman pada Panduan Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan yang dikeluarkan oleh BSSP serta pedoman penyusunan dan implementasi KTSP RA yang dikeluarkan oleh Kanwil Departemen Agama Jawa Timur. Kurikulum Raudlatul Athfal ini akan diimplemtasikan pada tahun 2009.

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Raudlatul Athfal dinyatakan tercapai apabila kegiatan mencar ilmu bisa mencapai perkembangan penerima didik secara optimal proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik biar sanggup diterima untuk; (1) memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global; (2) mempersiapkan penerima didik dalam menghadapi perkembangan dunia global; dan (3) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan/atau menyebarkan ketrampilan untuk hidup mandiri.

Untuk menjamin keberhasilan implemntasi kurikulum RA tersebut, dibutuhkan banyak sekali persyaratan, antara lain:

  1. Dukungan semua pemangku kepentingan pendidikan (Stakeholders);
  2. Sosialisasi, pelatihan, diskusi dan lokakarya KTSP;
  3. Pemenuhan dokumen yang dibutuhkan untuk penyusunan KTSP;
  4. Pengembangan sumberdaya insan secara berkelanjutan;
  5. Koordinasi dan pengelolaan yang profesional;
  6. Perluasan kerjsama yang baik dengan banyak sekali pihak;
  7. Semua pihak perlu: (a) memahami KTSP; (b) mempunyai dokumen pendukung;(c) mempunyai kesepakatan untuk berkembang dan maju secara bersama-sama; serta (d) bisa dan mau melaksanakannnya secara baik.

Kurikulum ini harus dijadikan prdoman bagi pengelola dan guru Raudlatul Athfal untuk seanjutnya disempurnakan secara terus-menerus. Dengan demikian, Kurikulum Raudlatul Athfal akan bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan berbudaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.

A. Visi, Misi dan Tujuan RA


1. Visi Raudlatul Athfal
Mencetak generasi mandiri, kreatif, inovatif, beriman mantap, berwawasan luas dan berakhlak karimah serta unggul dalam prestasi.

  1. Terbiasa melaksanakan kegiatan sendiri dan mempunyai rasa percaya diri
  2. Mampu berkreasi dan selalu mengadakan perubahan ke arah perbaikan atas kreatifitasnya.
  3. Teguh keyakinan terhadap Sang Maha Pencipta dan terbiasa mendirikan sholat lima waktu
  4. Memiliki wawasan luas dari pengalaman belajar
  5. Terbiasa berperilaku baik, benar dan sopan
  6. Terbiasa berkomunikasi dengan bahasa yang santun
  7. Mampu baca tulis arab dan latin serta berhitung
  8. Mampu dalam menghafal surat-surat pendek dan doa-doa sehari-hari

2. Misi Raudlatul Athfal

  1. Membiasakan anak melaksanakan kegiatan sendiri
  2. Memberikan materi yang sesuai dengan pemikiran agama Islam
  3. Menyelenggarakan rutinitas kegiatan yang sanggup melatih kreatifitas anak
  4. Melatih baca tulis Al-Qur’an dan baca tulis latin serta berhitung
  5. Melatih Pembiasaan sikap mental yang disiplin, sopan dan menghormati orang lain.

B. Tujuan Raudlatul Athfal


1. Tujuan Umum Raudlatul Athfal
Tujuan umum dirumuskan dengan mengacu kepada tujuan umum pendidikan RA, yaitu:

  1. Membangun landasan bagi berkembangnya potensi penerima didik biar menjadi insan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggungjawab.
  2. Mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan sosial penerima didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.
  3. Membantu anak didik menyebarkan banyak sekali potensi baik piskis maupun fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk memasuki pendidikam dasar.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dirumuskan sesuai dengan tujuan Raudlatul Athfal itu sendiri

  1. Mewujudkan sikap anak yang mandiri, kreatif, inovatif sesuai dengan pemikiran agama Islam.
  2. Menyediakan alat peraga edukatif yang menarik dan memadai
  3. Mewujudkan ketrampilan shalat, baca tulis Al-Qur’an
  4. Meningkatnya prestasi dan bisa bersaing di Tingkat Nasional
  5. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana/prasarana serta pemberdayaan-nya yang mendukung peningkatan prestasi siswa
  6. Terwujudnya ruang bermain yang lebih luas
  7. Tersedianya ruang guru yang bisa menampung semua guru
  8. Terwujudnya aula masrasah yang representatif

C. Tujuan Pengembangan KTSP


Tujuan penyusunan KTSP ini untuk dijadikan pola bagi Satuan Pendidikan Raudlatul Athfal dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan yaitu Pendidikan yang mengarah kepada Tujuan Satuan Pendidikan itu sendiri.

D. Prinsip - prinsip Pengembangan KTSP


KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansi setiap kelompok atau satuan pendidikan dibawah koordinasi dan supervisi Kantor Kementerian Agama Kab/Kota. Perkembangan KTSP mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kelulusan (SKL), serta berpedoman pada penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP serta memperhatikan pertimbangan Komite Raudlatul Athfal.

1. Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan penerima didik dan lingkungannya.
Pengembangan kurikulum diubahsuaikan dengan potensi penerima didik yang berbeda – beda, oleh lantaran itu proses pembelajarannya dilaksanakan secara individual, kelompok dan klasikal.

Bahan asuh dikemas dengan memakai kedekatan dengan tematik yang sanggup menyebarkan seluruh potensi dan aspek perkembangan anak usia dini menurut kebutuhan penerima didik serta tuntutan dilingkungan Raudhatul Athfal.

2. Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik penerima didik, kondisi tempat dengan menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, dan etika istiadat serta status sosial ekonomi dan gender .
Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lkal dan pengembangan diri yang dilaksanakan dengan memakai pembelajaran yang terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan menyenangkan

3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pngetahuan, tekhnologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh lantaran itu semangat dan isi kurikulum mendorong penerima didik untuk mengenal dan sanggup memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni.

4. Relevan dengan kebutuhan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan para pemerhati pendidikan(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup. Oleh lantaran itu pengembangan kurikulum menurut kecakapan hidup atau life skill,dengan memperhatikan pengembangan integritas pribadi,kemandirian,keterampilan berfikir (thinking skill), kecerdasan spiritual, emosional, sosial, musical, kinestetik,dan natural

5. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum meliputi keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan bidang pengembangan yang direncanakan , disajikan secara terpadu dan berkesinambungan

6. Belajar Sepanjang hayat
Kurikulum di arahkan pada proses pengembangan , pembudayaan dan penberdayaan penerima didik yang berlangsung sepanjang hayat. Hal ini ditanam kan semenjak dini biar penerima didik bahagia mencar ilmu sepanjang hayat, lantaran kondisi dan tuntunan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan insan seutuhnya

7. Seimbang antara kepentingan global, nasional dan lokal.
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kpentingan global, nasional dan local untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan global, nasional dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan perkembangan kurun globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Republik Indonesia (NKRI)

E. Acuan Operasional Penyusunan KTSP


Operasional penyusunan KTSP Raudlatul Athfal berpedoman pada :

1. Peningkatan Iman dan Taqwa serta etika mulia.
Keimanan dan ketaqwaan serta etika mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian penerima didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua bidang pengembangan sanggup menunjang penigkatan dogma dan taqwa serta etika mulia.

2. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan penerima didik.
Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kinestetik penerima didik secara optimal sesuai dengan tingkat pengembangan.

3. Keragaman potensi dan karateristik tempat dan lingkungan.
Daerah mempunyai keragaman potensi kebutuhan, tantangan dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh lantaran itu kurikulum Raudlatul Athfal memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan out put yang sanggup menunjukkan kontribusi bagi pengembangan daerah

4. Tuntutan pengembangan tempat dan nasional.
Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan tempat dan nasional.

5. Tuntutan dunia Kerja.
Memuat kecakapan perihal hidup (Life skill) untuk mengenalkan dan membekali penerima didik menghadapi kehidupan dunia kerja yang kompetetif dengan melatih dan membiasakan dengan kemandirian, tidak menggantungkan diri pada orang lain.

6. Perkembangan ilmu pengetahuan, tekhonologi dan seni.
Kurikulum dikembangkan secara bersiklus dan berkesinambungan sejalan dengan perkembngan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, dengan mengenalkan alat tekhnologi mutakhir kepada penerima didik.

7. Agama
Yang menjadi cirri khas kurikulum Raudlatul Athfal yaitu mendalami agama maksudnya pengenalan penerima didik terhadap rukun iman, rukun islam dan berakhlakul karimah lebih mendalam disertai dengan adaptasi dan pengamalan yang diubahsuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan penerima didik.

8. Dinamika perkembangan global.
Kurikulum dikembangkan biar penerima didik bisa bersaing secara global dan sanggup hidup berdampingan dengan bangsa lain.

9. Persatuan nasional dan nilai – nilai kebangsaan
Mendorong wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

10. Kondisi Sosial budaya masyarakat setempat
Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat lingkungannya dan menunjang kelestarian budaya.

11. Kesetaraan gender
Kurikulum Raudlatul Athfal diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan gender.

12. Karakteristik satuan pendidikan
Kurikulum dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan cirri khas satuan pendidikan.

Monday, 4 February 2019

Jadi Akil Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Tk Ra Kb Tpa Ba


Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak RA KB TPA BA. Pendidikan Anak Usia Dini yaitu kriteria wacana pengelolaan dan penyelenggaraan PAUD di seluruh wilayah aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada beberapa standar yang harus menjadi contoh dalam penyelenggaraan pendidikan utamanya Pendidikan Anak Usia Dini ibarat Taman Kanak-kanak RA dan KB. Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini selanjutnya disebut STPPA yaitu kriteria wacana kemampuan yang dicapai anak pada seluruh aspek perkembangan dan pertumbuhan, meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta seni.

Beberapa standar tersebut meliputi: Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak ibarat telah disebutkan diatas, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, dan Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan

Semua standar itu kita sedikit mengulas ibarat apa dan bagaimana.

  1. Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (telah dijelaskan diatas)
  2. Standar Isi yaitu kriteria wacana lingkup materi dan kompetensi menuju tingkat pencapaian perkembangan yang sesuai dengan tingkat usia anak.
  3. Standar Proses yaitu kriteria wacana pelaksanaan pembelajaran pada satuan atau aktivitas PAUD dalam rangka membantu pemenuhan tingkat pencapaian perkembangan yang sesuai dengan tingkat usia anak.
  4. Standar Penilaian yaitu kriteria wacana evaluasi proses dan hasil pembelajaran dalam rangka mengetahui tingkat pencapaian yang sesuai dengan tingkat usia anak.
  5. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan yaitu kriteria wacana kualifikasi akademik dan kompetensi yang dipersyaratkan bagi pendidik dan tenaga kependidikan PAUD.
  6. Standar Sarana dan Prasarana yaitu kriteria wacana persyaratan pendukung penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan anak usia dini secara holistik dan integratif yang memanfaatkan potensi lokal.
  7. Standar Pengelolaan yaitu kriteria wacana perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan atau aktivitas PAUD.
  8. Standar Pembiayaan yaitu kriteria wacana komponen dan besaran biaya personal serta operasional pada satuan atau aktivitas PAUD.

Pendidikan Anak Usia Dini yaitu upaya pelatihan yang ditujukan kepada anak semenjak lahir hingga usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui sumbangan rancangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani biar anak mempunyai kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Satuan atau aktivitas PAUD yaitu layanan PAUD yang dilaksanakan pada suatu forum pendidikan dalam bentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), Bustanul Athfal (BA), Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), dan Satuan PAUD Sejenis (SPS).

Kurikulum PAUD yaitu seperangkat planning dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan materi pengembangan serta cara yang dipakai sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pengembangan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pembelajaran yaitu proses interaksi antar anak didik, antara anak didik dan pendidik dengan melibatkan orangtua serta sumber berguru pada suasana berguru dan bermain di satuan atau aktivitas PAUD.

Untuk selanjutnya bisa anda download pada link berikut ini: Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak RA KB TPA BA

Dari semua klarifikasi diatas semoga bisa menawarkan manfaat untuk kita semua.

Monday, 25 February 2019

Jadi Cendekia Mengapa Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Sangat Penting?


Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 0-6 tahun merupakan periode emas untuk pengembangan kemampuan kognitif, sosial, emosional dan fisik. Intervensi pada anak kelompok usia ini sangat penting alasannya merupakan fondasi untuk pembangunan Human Capital alasannya anak yang sehat dan yang secara sosial tumbuh secara optimal akan tumbuh menjadi orang pintar balig cukup akal yang produktif secara ekonomi.

Pengamatan menunjukkan investasi terhadap anak usia dini menghasilkan Rate of Return yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Pendidikan anak usia dini terbukti meningkatkan school readiness pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. (kesehatan fisik, emosional, perkembangan motorik, pengetahuan dan kompetensi sosial, keterampilan berbahasa).

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan upaya training yang ditujukan kepada anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 ( enam ) tahun yang dilakukan, melalui pinjaman rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani supaya anak mempunyai kesiapan dalam memasuki pendidikan selanjutnya sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R I (Nomor 146 2014 Pasal 1) .

RA (raudlatul athfal) sebagai salah satu satuan pendidikan anak usia dini yang mempunyai karakteristik keislaman sehingga perlu diciptakan situasi aman yang bernuansa Islami. Akan lebih menekankan pada penyesuaian termasuk lebih menekankan pada permainan yang sanggup membuat kreatifitas dan penemuan bukan sekedar pengutamaan pada kognitif. Model menyerupai ini pula dalam memperkenalkan alam di sekitarnya. Penciptaan situasi ini merupakan bab dari diversifikasi dan implementasi kurikulum.

Pendidikan RA bertujuan untuk membantu anak latih berbagi banyak sekali potensi baik psikis dan fisik yang mencakup susila dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.

Sunday, 11 August 2019

Jadi Bakir Apa Yang Anda Ketahui Wacana Paud? Kenapa Harus Ada Paud?


Apa yang anda ketahui perihal PAUD? Kenapa harus ada PAUD? Apa prinsip-prinsip dalam PAUD? mungkin itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul di pikiran kita alasannya pendidikan anak usia dini (PAUD) dulu belum ada. Karena itulah Prinsip pembelajaran dan jenis perkembangan PAUD,

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yakni pendidikan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak (usia + 0 – 8 tahun) sehingga terbentuk kepribadian anak yang sehat jasmani-rohani (shalih-shalihah)

Pendidikan usia dini merupakan masa emas (golden age) yang menjadi fondasi bagi tumbuh kembang seseorang di masa dewasa. Anak yang pada masa usia dininya menerima rangsangan yang cukup dalam membuatkan kedua belah otaknya akan memperoleh kesiapan yang menyeluruh untuk berguru sukses pada ketika memasuki SD/MI

Prinsip pembelajaran PAUD


  1. Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain
  2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
  3. Stimulasi Terpadu
  4. Berorientasi pada Perkembangan Anak
  5. Lingkungan Kondusif
  6. Menggunakan Pendekatan Tematik
  7. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
  8. Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar

Apa makna pertumbuhan dan perkembangan dalam PAUD?


Jenis-jenis perkembangan dasar PAUD Meliputi:

  • perkembangan Kognitif,
  • perkembangan Sosial-Emosional,
  • perkembangan Bahasa,
  • perkembangan Fisik-Motorik, dan
  • perkembangan Moral PAUD.

Selanjutnya kita akan membahas sedikit perihal jenis perkembangan PAUD

1.Perkembangan Kognitif


  • Proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga menghasilkan pengetahuan
  • Peningkatan kemampuan daya pikir atau kecerdikan untuk memperoleh pengetahuan baru

2. Perkembangan Sosial-Emosional


  • Proses pembentukan socialself (sikap diri dalam keluarga, dan sekitarnya)
  • Perolehan kemampuan anak untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan budaya di masyarakatnya
  • Kemampuan anak untuk mengikuti keadaan dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran, dan perilakunya.

3. Perkembangan Bahasa


  • Proses interaksi anak dalam berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya
  • Kemampuan anak untuk mendengar, berbicara, membaca, dan menulis sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungannya

4. Perkembangan Fisik-Motorik


  • Perkembangan gerakan jasmaniah melalui acara sentra saraf dan otot yang terkoordinasi
  • perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh

5. Perkembangan Moral


  • Proses anak mulai menyadari dan mengartikan bahwa sesuatu tingkah laris ada yang baik dan ada yang tidak baik
  • Sistem kepercayaan, penghargaan, dan ketetapan yang terjadi di bawah sadar perihal tindakan yang benar dan yang salah, dan untuk memastikan anak akan berusaha berbuat sesuai dengan keinginan masyarakat

Itulah sekilas perihal Prinsip dan perkembangan pendidikan anak usia dini (PAUD), biar sanggup memperlihatkan manfaat dan citra bagi kita semua utamanya belum dewasa generasi yang akan datang.

Referensi: Pendma Kemenag Pamekasan | IGRA

Monday, 25 February 2019

Jadi Berilmu Buku Fatwa Penyusunan Kurikulum 2013 Paud Tk Ra


Pendidikan Anak Usia Dini, yang selanjutnya disingkat PAUD, merupakan suatu upaya pelatihan yang ditujukan kepada anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui derma rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani supaya anak mempunyai kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Beberapa komponen yang sanggup dijabarkan dari rumusan tersebut di atas, yakni:

  • PAUD berisi kegiatan pelatihan berupa kegiatan pendidikan.
  • Sasaran PAUD yaitu anak usia 0-6 tahun
  • Program PAUD untuk membuatkan seluruh potensi anak yang meliputi lingkup perkembangan nilai agama dan moral, fisik  motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni.
  • Tujuan kegiatan PAUD yaitu supaya anak mempunyai kesiapan mengikuti pendidikan lebih lanjut

Pendidikan anak usia dini di Indonesia mempunyai kekhasan dibanding dengan yang diterapkan di banyak sekali negara. Kekhasan tersebut pada: (1) cakupan rentang usia, sasaran anak usia dini di Indonesia dari 0 – 6 tahun, sedangkan di berbegai negara mencapai usia 8 tahun; (2) kegiatan layanan anak usia dini di Indonesia terdiri atas Taman Kanak-Kanak (untuk anak 4-6 tahun), Kelompok Bermain (prioritas anak usia 2-4 tahun), Taman Penitipan Anak (prioritas usia 0-6 tahun), dan Satuan PAUD Sejenis (anak 0-6 tahun); (3) jalur pendidikan.

Taman Kanak-Kanak masuk dalam jalur pendidikan formal, sedangkan Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, dan Satuan PAUD Sejenis masuk dalam jalur pendidikan non formal. Kekhasan tersebut mengakibatkan PAUD di Indonesia spesifik dalam penyelenggaraannya alasannya yaitu setiap kegiatan layanan mempunyai kekhasan masing-masing. Namun demikian semua kegiatan layanan PAUD mempunyai tujuan yang sama yakni membuatkan seluruh potensi anak yang meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, serta seni untuk mencapai kesiapan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan anak usia dini merupakan dasar yang memberi efek positif pada keberhasilan di jenjang pendidikan di atasnya. Oleh alasannya yaitu itu, pendidikan anak usia dini dikembangkan dengan berdasar landasan keilmuan, landasan yurudis, sosial, budaya, dan pedagogis baik secara teoretis maupun empiris.

Isi buku ajaran kurtilas paud format pdf ini meliputi:

  • Apa yang mendasari pemikiran K 13 PAUD?
  • Apakah Makna PAUD Dalam Pembangunan Bangsa
  • Ke manakah Arah Pembangunan PAUD Di Indonesia
  • Mengapa PAUD Memerlukan Kurikulum Berkualitas
  • Perlukah Kurikulum Untuk Pendidikan Anak Usia Dini
  • Apa sajakah yang menjadi Landasan Pengembangan Kurikulum PAUD di Indonesia
  • Bagaimanakah Posisi Kurikulum PAUD dalam Rangka Pendidikan Nasional
  • Bagaimanakah Kedudukan K-13 PAUD dengan Kurikulum Pendidikan di Level Atasnya
  • Bagaimanakah Keterkaitan Standar PAUD dan Kurikulum 2013 PAUD
  • Bagaimanakah Karakteristik Kurikulum PAUD Indonesia
  • Ke manakah Arah Kurikulum PAUD Indonesia
  • Arah Kurikulum 2013 PAUD
  • Apa sajakah Karakteristik Kurikulum PAUD Indonesia
  • Apa Prasyarat dalam Menerapkan Kurikulum PAUD Indonesia
  • Bagaimana Ketentuan Pemda dalam Penerapan Kurikulum PAUD
  • Bagaimana Ketentuan Setiap Satuan PAUD dalam Penerapan Kurikulum PAUD

Semuanya bagikan dalam bentuk file format pdf dan sanggup anda unduh pada link dibawah ini:

Buku Pedoman Penyusunan Kurikulum 2013 PAUD Taman Kanak-kanak RA

Demikian dari kami, semoga bermanfaat...

Tuesday, 26 February 2019

Jadi Berilmu Prinsip Dan Faktor Yang Mensugesti Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak


Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini berbeda dengan prinsip-prinsip perkembangan fase kanak-kanak final dan seterusnya. Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini (Siti Aisyah dkk., 2007 : 1.17 – 1.23) yakni sebagai berikut:

  1. Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
  2. Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relative sanggup diramalkan.
  3. Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.
  4. Pengalaman awal anak mempunyai efek kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.
  5. Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.
  6. Perkembangan dan cara berguru anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.
  7. Anak yakni pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya perihal lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, sosial, dan pengetahuan yang diperolehnya.
  8. Perkembangan dan berguru merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
  9. Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.
  10. Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan aneka macam keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.
  11. Anak mempunyai modalitas bermacam-macam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau adonan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga sanggup berguru hal yang berbeda pula dalam menunjukkan hal-hal yang diketahuinya.
  12. Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan berguru yakni dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan kondusif secara fisik dan fisiologis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

Salisu Shehu (1999) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan antara lain faktor hereditas dan faktor lingkungan. Dalam perspektif Islam ada faktor yang penting untuk diingat, bahwa faktor ketentuan Allah merupakan hal yang juga memengaruhi proses perkembangan dan pertumbuhan. Dengan demikian dalam Islam, faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan mencakup faktor hereditas, lingkungan dan ketentuan Allah.Selain itu, insan sebagai khalifah Allah di muka bumi, juga dianugerahkan kebebasan berkehendak yang terbatas kalau dibandingkan dengan kekuasaan Allah.

Al-Qur’an menjelaskan efek herediter dan kekuatan lingkungan pada keseluruhan perkembangan individu.Namun, perlu ditekankan bahwa efek herediter dan lingkungan pada perkembangan seseorang merupakan hal yang ditentukan oleh kehendak Allah.

  1. Intenal /hereditas :
    • Faktor bawaan yang normal dan patologik
    • Proses selama kehamilan (nutrisi, penyakit, obat, polusi, dll)

    Contoh Faktor internal/ hereditas:
    a. Genetik: ras, suku bangsa, warna kulit, jenis rambut dll
    b. Proses selama kehamilan: nutrisi yang didapat dari ibu, penyakit yang diderita, obat-obatan yang dimakan, lingkungan dll

  2. Eksternal/ lingkungan:
    • Asupan gizi penyakit  yang diderita
    • Kualitas
    • Pengasuhan
    • Dan kondisi lingkungan

    Contoh Faktor eksternal/ lingkungan :
    a. Nutrisi yang diberikan, penyakit yang diderita, kebersihan lingkungan sekitar, acara fisik yang dilakukan.
    b. Gizi yang didapat, penyakit yang diderita, kualitas keluarga/pengasuh, teman, dan sekolah.

Psikologi Islami tidak melihat insan hanya sebagai subjek dari faktor herediter dan kekuatan alam (dalam hal ini terjadi secara kebetulan).Islam melihat manusia, menyerupai juga yang lainnya, merupakan sesuatu yang diatur, dijaga, diarahkan dan dikontrol oleh kekuatan dan kehendak Allah yang tidak terbatas. Herediter dan kekuatan alam yang memengaruhi insan merupakan hal kedua. Oleh sebab itu, herediter dan kekuatan akan merupakan medium di mana Allah menunjukkan kehendaknya pada pertumbuhan dan perkembangan insan secara keseluruhan.

Monday, 4 February 2019

Jadi Bakir Panduan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Paud Ra Tk


Anak usia dini diharapkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Deteksi dini dibutuhkan untuk mengetahui apakah seorang anak tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Kemampuan deteksi dini hasilnya dibutuhkan oleh pendidik. Hasil deteksi dini tumbuh kembang seorang anak menjadi dasar untuk menawarkan stimulasi dan intervensi yang sempurna sesuai dengan kebutuhannya. Stimulasi dan intervensi tersebut dituangkan ke dalam program-program kegiatan yang sesuai dengan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak.

Deteksi dini ialah kegiatan untuk menemukan secara dini adanya potensi dan kendala pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia dini. Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga sanggup diukur dengan satuan panjang dan berat, contohnya berat tubuh, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, pertumbuhan gigi dan pertumbuhan tulang.

Perkembangan ialah bertambahnya fungsi psikis dan fisik anak mencakup sensorik (mendengar, melihat, meraba, merasa, dan menghidu), motorik (gerakan motorik berangasan dan halus), kognitif (pengetahuan, kecerdasan), komunikasi (berbicara dan bahasa), serta perilaku religius, sosial-emosional dan kreativitas.

Wawancara dengan orang bau tanah dilakukan pada dikala anak mendaftar untuk menerima informasi awal wacana kemungkinan kendala untuk tumbuh kembang anak. Wawancara juga dilakukan untuk menawarkan informasi jikalau selama pembelajaran pendidik menemukan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak sesuai dengan usia tertentu. Jika ditemukan kendala perkembangan dibutuhkan kesepahaman orang bau tanah dan pendidik untuk penanganan lebih lanjut.

Deteksi Pertumbuhan dan Perkembangan
Deteksi pertumbuhan dan perkembangan yang dilakukan mencakup antara lain:
1. Deteksi pertumbuhan

  • Menimbang berat tubuh anak setiap bulan untuk melihat pertumbuhan berat badan.
  • Mengukur tinggi/panjang tubuh anak setiap bulan untuk melihat pertumbuhan tinggi/panjang badan.
  • Mengukur besar lingkar kepala anak setiap untuk melihat pertumbuhan lingkar kepala.
  • Memeriksa bab kepala (rambut, mata, telinga, hidung, mulut, gigi), kulit, kuku, tangan dan kaki dilaksanakan minimal seminggu 1 (satu) kali untuk melihat kebersihan dan kesehatan.

2. Deteksi Perkembangan
a. Sosial emosional dan kemandirian Deteksi dini ini bekerjasama dengan kemampuan bersosialisasi dan pengendalian emosi serta kemampuan berdikari anak. Hambatan mungkin terjadi contohnya ketika anak:

  • kurang konsentrasi/pemusatan perhatian;
  • sulit berinteraksi dengan orang lain;
  • mudah menangis/cengeng;
  • sering murka jikalau keinginannya tidak dituruti.

b. Bahasa
Deteksi dini ini dilakukan untuk melihat kendala yang bekerjasama dengan kemampuan berbahasa yang mencakup kemampuan membedakan bunyi yang bermakna dan tidak bermakna (bahasa reseptif), bicara (bahasa ekspresif), komunikasi (pragmatik).

c. Fisik (motorik berangasan dan halus)

1) Motorik kasar
Deteksi dini pada motorik berangasan dilakukan untuk melihat kendala yang bekerjasama dengan keseimbangan dan koordinasi anggota tubuh dengan memakai otot-otot besar.

2) Motorik halus
Deteksi dini pada motorik halus dilakukan untuk melihat kendala yang melibatkan gerakan bab tubuh tertentu yang memerlukan koordinasi yang cermat antara otot-otot kecil/halus dan mata serta tangan.

d. Kognitif
Deteksi dini pada aspek kognitif dilakukan untuk melihat kendala yang bekerjasama dengan aspek kematangan proses berpikir.

e. Penglihatan
Deteksi dini pada penglihatan dilakukan untuk melihat kendala yang bekerjasama dengan:

  • pengamatan melalui indera penglihatan yang merupakan keterampilan untuk melihat persamaan dan perbedaan, bentuk, warna, benda, sebagai dasar untuk pengembangan kognitif; dan
  • keterampilan untuk mengingat apa yang sudah dilihatnya.

f. Pendengaran
Deteksi dini pada pendengaran dilakukan untuk melihat duduk perkara yang bekerjasama dengan:

  • pengamatan melalui indera pendengaran yang merupakan keterampilan untuk bisa mendengar perbedaan dan persamaan suara; dan
  • keterampilan untuk bisa mengingat suara-suara atau bunyi.

Hasil deteksi awal dipakai untuk menyusun perencanaan kegiatan kegiatan secara sistematis, terarah dan terpadu sesuai kebutuhan anak. Perencanaan kegiatan dilakukan bersama oleh seluruh pendidik di bawah koordinasi kepala/pengelola PAUD. Jika dirasa perlu perencanaan kegiatan sanggup melibatkan tenaga jago yang relevan.

Pelaksanaan kegiatan stimulasi yang disusun menurut hasil deteksi dini mencakup tahapan:

  • pelaksanaan kegiatan yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran;
  • penilaian terhadap proses dan hasil stimulasi;
  • analisis terhadap evaluasi proses dan hasil stimulasi; dan
  • perencanaan dan pelaksanaan tindak lanjut.

Panduan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak PAUD RA TK

Catatan evaluasi proses dan hasil stimulasi deteksi dini tumbuh kembang anak dipakai pendidik dan orang bau tanah sebagai materi untuk menyusun tindak lanjut stimulasi. Jika dirasa perlu catatan ini sanggup menjadi materi yang dipakai untuk konsultasi ke jago yang relevan antara lain kepada staf Puskesmas, terapis, psikolog, dan/atau dokter.

Jadi Bakir 5 Karakteristik Cara Mencar Ilmu Anak Usia Dini


5 Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini. Pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan saintifik dalam proses bermain. Oleh sebab itu penyelenggaraan pembelajaran disajikan dalam suasana menyenangkan sehingga menarik minat anak. Proses penyelenggaraan pembelajaran diupayakan sanggup membangun gagasan untuk mengekspresikan kebebasan, imajinasi, dan kreativitas sehingga sanggup menyebarkan nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan anak.

Agar pelaksanaan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan diharapkan pedoman pembelajaran sesuai dengan karakteristik anak yang mengacu pada kurikulum PAUD 2013 yang sanggup menjadi contoh bagi pendidik di lapangan.

Dalam Kegiatan Pembelajaran pada Pendidikan anak usia dini harus diadaptasi dengan beberapa hal, salah satunya yaitu memperhatikan karakteristik cara mencar ilmu anak usia dini berikut ini:

1. Anak mencar ilmu secara bertahap


Anak mencar ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kematangan perkembangan berpikirnya. Anak mencar ilmu dari mulai segala sesuatu yang konkrit, yang sanggup dirasakan oleh inderanya. Anak seorang pembelajar alami dan sangat bahagia mencar ilmu (Raffini, 1993). Anak mencar ilmu mulai dengan cara menarik, mendorong, merasakan, mencicipi, menemukan, menggerak-gerakan dengan banyak sekali cara yang disukainya. Anak mencar ilmu semenjak lahir dan sebenarnya anak bahagia mencar ilmu dan mencari pemecahan dari duduk kasus yang dihadapinya. (Lind, 1999, p. 79).

2. Cara berpikir anak bersifat khas


Duit and Treagust (1995) menyatakan bahwa cara anak berpikir berakar dari pengalamannya sehari-hari. Cara anak berpikir ihwal dunia sekelilingnya juga mensugesti pemahamannya ihwal konsep saintis. Pengalaman yang sangat membantu dan berharga bagi anak didapat dari enam sumber yakni:

  1. pengalaman sensory,
  2. pengalaman berbahasa,
  3. latar belakang budaya,
  4. teman sepermainan,
  5. media masa, dan
  6. kegiatan saintis.

Anak cenderung melihat sesuatu berpusat pada dirinya sendiri atau cara memandang kemanusiaan. Misalnya dikala bonekanya ditinggal di bangku, anak berkata “tunggu ya disitu jangan nakal.” Makara anak selalu memakai sisi kemanusiaan terhadap benda-benda atau kejadian. Seringkali anak memakai kata-kata yang makna berbeda dengan makna orang cukup umur atau pada umumnya. Misalnya “kemarin saya pergi ke pasar sama ibu.” Kata kemarin bukan berarti sebelum hari ini, tetapi bisa jadi ahad lalu, dua hari lalu, atau gres saja terlewati. Hal ini sebab konsep waktu pada anak belum cukup matang.

3. Anak-anak mencar ilmu dengan banyak sekali cara


Anak bahagia mengamati dan berpikir ihwal lingkungannya (Eshach & Fried, 2005; Ramey-Gassert, 1997). Anak termotivasi untuk mengeksplor dunia sekitarnya dengan caranya sendiri (French, 2004). Terkadang cara anak mencar ilmu tidak dipahami orang dewasa, sehingga dianggap anak ini sedang bermain tanpa makna atau bahkan sebaliknya ia berbuat sesuatu yang nakal.

4. Anak mencar ilmu satu sama lain dalam lingkungan sosial


Anak terlibat aktif dengan lingkungannya untuk menyebarkan pemahaman fundamental ihwal fenomena yang anak amati dan lakukan. Anak juga membangun keterampilan proses saintis yang sangat penting yaitu mengamati, mengklasisikasikan, dan juga mengelompokkan. (Eshach & Fried, 2005; Platz, 2004).

Anak mencar ilmu banyak pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan sosial-emosional, dan kemampuan lainnya berkembang pesat bila anak diberi kesempatan bersosialisasi dengan teman, benda, alat main, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

5. Anak mencar ilmu melalui bermain


Bermain membantu menyebarkan banyak sekali potensi anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan objek-objek yang bersahabat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.

Jadi Berilmu Kumpulan Format Dan Anutan Evaluasi Paud Ra Tk Kb Kurikulum 2013


Hai sahabat guru yang budiman. Kita tahu bahwa dalam sebuah forum pendidikan tak lepas dari yang namanya penilaian, termasuk juga pendidikan anak usia dini (paud). Hanya saja pada pendidikan anak usia dini menyerupai RA dan Taman Kanak-kanak cara dan teknis pembelajaran sangat berbeda dengan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, alasannya ialah umur penerima didik berkisar antara 3-6 tahun saja.

Dalam hal ini mendikbud / kemenag mengeluarkan regulasi /  juknis yang berkaitan dengan evaluasi supaya pembelajaran pada anak usia dini sesuai dengan abjad anak untuk umur 3-6 tahun. Dan metode / model pembelajaran yang paling terkenal ialah "belajar sambil bermain, bermain seraya belajar". Karena bermain memang dunia anak, mereka tidak dapat di atur harus begini begitu. Namun kita sebagai orang bau tanah / pendidik harus dapat memahami abjad masing-masing anak.

Karena itulah disini kami akan menyimpulkan beberapa artikel / postingn yang telah kemudian wacana banyak sekali macam format dan pedoman yang terkait dengan evaluasi pendidikan pada anak usia dini yang dapat anda download pada link dibawah ini sesuai dengan judulnya masing-masing:

Panduan Penilaian Kurikulum 2013 Terlengkap dan Terbaru cek disini
Contoh Format Penilaian Hasil Karya Anak Kurikulum 2013 cek disini
Contoh Format Catatan Harian Dalam Penilaian Kurikulum 2013 cek disini
Contoh Format Catatan Penilaian Anekdot Kurikulum 2013 cek disini
Pedoman Penilaian dan Pelaporan Perkembangan Anak K13 cek disini
Contoh Format Penilaian Mingguan dan Bulanan Kurikulum 2013 cek disini
Buku Panduan Penilaian Pembelajaran K-13 Terbaru cek disini
Format Laporan Pencapaian Perkembangan Anak Kurikulum 2013 cek disini
Pendekatan Pembelajaran dan Penilaian Pada cek disini
Prinsip Prinsip Penilaian Pembelajaran Anak cek disini
Cara Dan Teknik Penilaian Pembelajaran Anak cek disini
Tahap Perkembangan Moral Anak Usia Dini Menurut Para Ahli cek disini
Karakter dan Faktor Perkembangan Sosial Emosional Pada Anak Usia Dini cek disini
Tahapan Perkembangan Kognitif Anak usia Dini Menurut Para Ahli cek disini
Contoh Panduan / Pedoman Penilaian Kurikulum 2013 cek disini
Contoh Format Penilaian Harian dan Bulanan Kurikulum 2013 cek disini

Demikian dari kami wacana kumpulan format evaluasi pendidikan anak usia dini, semoga dapat memperlihatkan manfaat untuk kita semua utamanya pendidikan belum dewasa Indonesia. Amin ...